Karya: Ahmad syaikhoni
Di antara jarak yang tak berwujud, kita berdiri seperti dua cahaya
yang saling menyentuh namun tak pernah benar-benar bertemu.
Kau adalah bisik paling dekat di tepi kesadaranku,
sementara aku menjadi bayang yang selalu tiba terlambat
pada makna kehadiranmu.
Kita berjalan dalam lingkar nasib yang sama,
namun waktu menjahitkan ketidakterjangkauan pada langkah kita.
Ada jarak yang lebih sunyi dari hening,
lebih jauh dari bumi menatap langit...
dan di sanalah hati kita berdiam.
Meski hanya sejengkal, kita tetap menjadi paradoks:
dua jiwa yang saling mencari
namun terperangkap dalam semesta yang berbeda.
Dan barangkali, kemenangan terbesar cinta
adalah berani tetap merindu tanpa pernah memiliki.
Bandar Lampung, 22 Mei 2026