Jembatan Yang Tak Pernah Sampai
Kita berdiri di hadapan mata,
seolah dunia hanya seluas telapak tangan.
Namun mengapa rasanya begitu luas,
seperti samudra yang tak bertepi dan tak bertepi?
Suaramu terdengar jelas di telinga,
seperti angin yang berbisik lembut di samping.
Tapi maknanya hilang entah ke mana,
menjadi kabut yang tebal dan menyesakkan?
Jarak kita hanya selangkah,
namun langkah ini berat bagai menembus dinding.
Kau ada di sini, kau hadir nyata,
tapi mengapa rasanya kau berada di ujung bumi?
Begitu dekat untuk disentuh,
namun begitu jauh untuk dimiliki.
Inilah takdir yang pahit untuk diterima,
dekat di mata, jauh di jiwa.
Sekadau, 7 Mei 2026